Dosen ITB Kembangkan Mikroalga untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Agen Berita Poso — Dosen ITB Kembangkan Dalam upaya menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin mendesak, seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah mengembangkan sebuah inovasi yang berpotensi menjadi solusi signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Dr. Rina Fitria, seorang ahli bioteknologi dan dosen di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, tengah mengembangkan teknologi berbasis mikroalga untuk menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer secara lebih efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi kadar gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global, dengan memanfaatkan mikroalga sebagai agen penyerapan karbon. Mikroalga diketahui memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap CO2, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan tanaman biasa, dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor industri, termasuk energi terbarukan, pertanian, dan pengolahan limbah.
Dosen ITB Kembangkan Potensi Mikroalga dalam Mitigasi Perubahan Iklim
Mikroalga, organisme mikroskopis yang ditemukan di perairan laut dan tawar, memiliki kemampuan untuk melakukan fotosintesis dan mengubah karbon dioksida menjadi biomassa. Salah satu kelebihan mikroalga adalah kemampuannya untuk berkembang biak dengan cepat, sehingga dapat menjadi solusi yang skalabel untuk mengatasi emisi gas rumah kaca secara massal. Selain itu, mikroalga juga menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan, menjadikannya sebagai sistem alami yang menguntungkan bagi lingkungan.
Dalam proyek risetnya, Dr. Rina dan timnya memfokuskan penelitian pada pemanfaatan mikroalga dalam sistem biosequestration, yaitu proses penyerapan dan penyimpanan karbon di dalam biomassa mikroalga yang kemudian dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti biodiesel, pakan ternak, atau bahan bakar alternatif. Dengan cara ini, mikroalga tidak hanya berfungsi untuk mengurangi CO2, tetapi juga dapat menghasilkan produk yang bermanfaat secara ekonomi.
“Mikroalga memiliki potensi yang luar biasa dalam mitigasi perubahan iklim. Selain dapat menyerap karbon dioksida, mereka juga dapat diproses menjadi produk yang bernilai ekonomi, seperti biofuel dan bahan kimia lainnya. Inilah yang membuat teknologi ini sangat menarik dalam skala besar,” jelas Dr. Rina dalam wawancara.
Baca Juga: Kabar Reshuffle Kabinet Sekjen Demokrat Menteri Kami Bekerja dengan Baik
Dosen ITB Kembangkan Teknologi Inovatif yang Diciptakan
Sebagai bagian dari penelitian, Dr. Rina dan tim ITB mengembangkan sistem kultur mikroalga yang dapat diimplementasikan dalam skala besar di Indonesia, negara yang kaya dengan sumber daya alam dan memiliki wilayah pesisir yang luas. Teknologi ini menggunakan sistem fotobioreaktor, yaitu perangkat yang mendukung pertumbuhan mikroalga dengan mengontrol suhu, cahaya, dan kondisi lingkungan lainnya, yang memungkinkan alga untuk tumbuh secara optimal dan menyerap CO2 dalam jumlah besar.
Dr. Rina juga mengembangkan metode pengolahan pasca-panennya, di mana mikroalga yang telah menyerap karbon dioksida dapat dikonversi menjadi bahan bakar atau produk lainnya. Salah satu aplikasinya adalah produksi biofuel, yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
“Biofuel dari mikroalga dapat menjadi alternatif yang lebih bersih dan berkelanjutan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Proses ini juga mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon, di mana kita dapat mengurangi ketergantungan pada energi yang merusak lingkungan,” tambahnya.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Selain memberikan manfaat untuk mitigasi perubahan iklim, penelitian ini juga berpotensi mendatangkan manfaat ekonomi yang signifikan. Mikroalga yang dihasilkan dalam proyek ini dapat digunakan dalam berbagai industri, seperti energi terbarukan, pertanian, dan bahkan industri farmasi. Biomassa mikroalga dapat dijadikan pakan ternak, sementara produk olahan lainnya seperti omega-3 dan bahan kosmetik memiliki nilai pasar yang tinggi.
Di sisi lain, produksi mikroalga dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah pencemaran air. Mikroalga yang dikultur dalam sistem tertutup dapat dipasang di area yang memiliki tingkat polusi tinggi, seperti daerah industri atau perairan yang tercemar, dan mampu menyerap kelebihan nutrisi atau polutan lainnya.
“Melalui penelitian ini, kami tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang baru dalam hal ekonomi hijau dan keberlanjutan. Kami berharap teknologi ini bisa diadopsi oleh industri dan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan energi terbarukan dan solusi perubahan iklim,” tambah Dr. Rina.
Potensi Kolaborasi dengan Industri dan Pemerintah
Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan teknologi mikroalga di Indonesia adalah integrasi dengan industri dan kebijakan pemerintah. Meskipun penelitian ini menunjukkan hasil yang menjanjikan, implementasi teknologi tersebut memerlukan dukungan dari berbagai sektor, termasuk industri energi, pertanian, dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah memberikan perhatian besar terhadap upaya-upaya mitigasi perubahan iklim, termasuk pengembangan energi terbarukan dan teknologi ramah lingkungan. Namun, agar teknologi mikroalga ini dapat diimplementasikan secara luas, dibutuhkan kolaborasi lebih lanjut antara lembaga penelitian, pemerintah, dan sektor swasta.





