Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, China Ogah Ikut Campur Perundingan
Agen Berita Poso — Perjanjian Nuklir AS Rusia Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia yang sudah bertahan selama lebih dari dua dekade, New START (Strategic Arms Reduction Treaty), akhirnya berakhir pada 2026 tanpa ada kesepakatan lanjutan yang dicapai. Ketegangan antara kedua negara besar itu semakin meningkat pasca berakhirnya perjanjian ini, dan ada harapan yang berkembang di kalangan banyak negara untuk melibatkan pihak ketiga seperti China dalam perundingan baru. Namun, China dengan tegas menolak untuk ikut campur dalam proses tersebut, menegaskan bahwa masalah pengendalian senjata nuklir adalah urusan antara AS dan Rusia saja.
Dengan berakhirnya perjanjian ini, banyak pihak khawatir akan kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata nuklir dan ketidakpastian global terkait stabilitas keamanan internasional.
AS dan Rusia: Ketegangan Meningkat setelah Berakhirnya Perjanjian
AS dan Rusia saling tuduh atas kegagalan untuk memperpanjang atau memperbaharui perjanjian tersebut, dengan masing-masing pihak menuding bahwa yang lain gagal untuk memenuhi kewajibannya dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintahan Joe Biden di AS berulang kali menyatakan keinginan untuk memperbaharui New START, tetapi ketegangan yang terus meningkat antara kedua negara, termasuk di bidang politik dan militer, menghalangi tercapainya kesepakatan.
“Perjanjian ini telah memberi kita transparansi dan pengendalian senjata strategis, yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan global,” ujar John Sullivan, mantan Duta Besar AS untuk Rusia. “Namun, ketika kedua negara tidak sepakat untuk memperbaharui perjanjian tersebut, kita hanya bisa khawatir tentang dampak jangka panjang terhadap perdamaian dunia.”
Sementara itu, Rusia mengklaim bahwa pihak AS tidak memenuhi beberapa komitmennya, terutama terkait dengan pengembangan sistem pertahanan rudal dan teknologi senjata baru. Pemerintah Rusia juga menekankan bahwa mereka tidak akan terikat oleh pembatasan sepihak tanpa ada konsesi dari AS dalam isu-isu lain yang lebih luas.
Baca Juga: Gempur Lebanon Israel Disebut Gunakan Zat Kimia
China Menolak Terlibat dalam Perundingan Baru
Sementara AS dan Rusia terjebak dalam kebuntuan, ada dorongan dari beberapa negara untuk melibatkan China dalam perundingan pengendalian senjata nuklir yang baru. China, yang kini merupakan salah satu kekuatan nuklir terbesar di dunia, dianggap semakin penting untuk turut ambil bagian dalam upaya pembatasan senjata nuklir global. Namun, dalam sebuah pernyataan resmi pada Jumat (6 Februari 2026), China menegaskan bahwa mereka tidak tertarik untuk terlibat dalam perundingan antara AS dan Rusia terkait masalah ini.
“China tidak akan ikut campur dalam perundingan pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia. Masalah ini adalah urusan bilateral antara kedua negara tersebut,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian.
Keengganan China untuk Bergabung dalam Perundingan: Apa Alasannya?
Keengganan China untuk terlibat dalam perundingan senjata nuklir AS-Rusia sebenarnya tidak mengejutkan bagi banyak pengamat internasional. Sejak lama, China telah menegaskan bahwa mereka menginginkan pendekatan yang lebih inklusif dalam pengendalian senjata nuklir global, dengan melibatkan lebih banyak negara, termasuk negara-negara dengan potensi nuklir lainnya seperti India, Pakistan, dan Israel.
“China telah memilih untuk menekankan kesetaraan dan keamanan bersama dalam hubungan internasional. Mereka tidak ingin terjebak dalam politik perundingan senjata nuklir antara dua negara besar yang memiliki kepentingan global yang sangat berbeda,” jelas Yang Jian, seorang analis hubungan internasional di Beijing.
China juga menghindari terjebak dalam perundingan yang hanya akan menguntungkan salah satu pihak.
Perjanjian Nuklir AS Rusia Peran China dalam Pengendalian Senjata Nuklir Global
Walaupun menolak untuk terlibat dalam perundingan New START atau yang sejenis, China tetap berperan aktif dalam forum-forum multilateral yang membahas isu senjata nuklir. Negara ini merupakan anggota dari Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT), yang merupakan perjanjian internasional untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan mendorong pelucutan senjata nuklir secara bertahap.
Pada 2025, China bahkan mengusulkan sebuah “deklarasi global” yang menyerukan pelucutan senjata nuklir secara bertahap di seluruh dunia, yang menurutnya adalah langkah yang lebih efektif daripada hanya memfokuskan pada pembatasan senjata nuklir di antara dua negara besar seperti AS dan Rusia.
Tantangan Global Tanpa Perjanjian Nuklir Baru
Perlombaan senjata nuklir global, khususnya antara AS dan Rusia, menjadi tantangan besar bagi stabilitas dunia. Tanpa perjanjian nuklir yang jelas seperti New START, kedua negara berpotensi memperluas program senjata nuklir mereka, yang dapat menciptakan ketegangan lebih lanjut di tingkat global.
“Mengingat ketegangan yang semakin meningkat antara Rusia dan AS, kita khawatir jika tanpa kesepakatan yang lebih jelas, dunia akan kembali ke era perlombaan senjata nuklir yang sangat berbahaya,” ujar Ian Bremmer, pakar hubungan internasional dan pendiri Eurasia Group. “China mungkin tidak terlibat dalam perundingan ini, tetapi mereka tetap memiliki peran besar dalam menciptakan stabilitas jangka panjang dalam masalah senjata nuklir.”





