Poso – Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) bekerja sama dengan Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan dukungan psikososial bagi korban gempa di Poso, Sulawesi Tengah. Program ini menyasar siswa PAUD hingga SMA serta para guru yang terdampak bencana.
Baca Juga: Satgas Madago Raya Intensifkan Razia Kendaraan di Poso
Kegiatan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama pada 19–21 November berfokus pada pelatihan Psychological First Aid bagi para guru dan relawan lokal. Selanjutnya, tahap kedua pada 22–26 November menitikberatkan pendampingan langsung kepada siswa dari berbagai jenjang pendidikan.

Ketua Umum PP HIMPSI, Andik Matulessy, menjelaskan bahwa timnya sudah melakukan asesmen awal di lapangan. Hasilnya, 456 siswa menunjukkan gejala masalah psikologis setelah gempa. Banyak anak merasakan kecemasan, ketegangan, dan kesulitan beradaptasi dengan kondisi baru. Andik menegaskan pentingnya intervensi cepat agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
Baca Juga: Kemenkum Sulteng Perkuat Regulasi Penanggulangan Kemiskinan
Selain pendampingan psikologi, tim juga mengadakan trauma healing, simulasi kesiapsiagaan bencana, serta pelatihan deteksi dini bagi sumber daya lokal. Langkah ini diharapkan menciptakan sistem dukungan berkelanjutan bagi sekolah-sekolah di wilayah tersebut.
Direktur PKPLK Kemendikdasmen, Saryadi, menyebut bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pendidikan di daerah rawan bencana. Ia menekankan bahwa anak-anak terdampak harus mendapat pemulihan psikologis yang menyeluruh agar dapat kembali belajar dengan nyaman.
Program ini diharapkan meningkatkan kesiapan siswa dan guru dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang, sekaligus memperkuat ekosistem sekolah yang lebih tangguh.





